Sabtu, 08 November 2014

IMPIANKU ADALAH BOS BESARKU (MY DREAMS IS MY BIG BOS)

             Sejak saya menyelesaikan pendidikan dijenjang Strata 1 ( S1 ) di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, saya bekerja selama 4 tahun di Makassar di dua perusahaan yang berbeda. Perusahaan pertama bergerak di bidang retail sedangkan perusahaan kedua bergerak dibidang ekspedisi. Suasana kota Makassar yang hiruk pikuk terasa sangat membosankan dengan rutinitas yang sama setiap harinya. Sejak pertama masuk perguruan tinggi ( tahun 2007) hingga lulus ( tahun 2011) dan saat ini ( tahun 2014 ) saya tinggal di Makassar. Sering teringat orang mengatakan sekejam-kejam ibu tiri lebih kejam ibu kota menurut saya adalah pernyataan yang cukup wajar saja. Bagaimana tidak di kota besar seperti Makassar segala-galanya harus pakai uang. Suatu hari saya lagi di mall lagi antri di toilet karena kebelet pipis. Saya mendengar orang yang keluar dari toilet berbicara kepada temannya sambil menggerutu “di Makassar hanya kentut yang gratis”. Keduanya berlalu melanjutkan tujuannya dating ke mall. Saya bergumam dalam hati “benar juga kata mereka heheheh” sambil tertawa dalam hati. Persoalan yang cukup mendalam yang di alami oleh kota makassar yang dari tahun ke tahun semakin serius adalah kemacetan. Berbagai macam cara yang telah dilakukan oleh pemerintah kota Makassar untuk mengatasi kemacetan ini belum memberikan dampak yang signifikan, karena memang jumlah kendaraan yang bertambah cukup pesat setiap harinya. 

            Kembali ke tema ( back to theme ). Dengan rutinitas dan suasana kota yang bikin jenuh itu saya mulai berfikir saya harus berubah ( change ). Saya sudah bulat meninggalkan segala sesuatunya (kerjaan di kantor, muka atasan yang menjengkelkan, suasana bising kota, panas ibu kota) and back to natur. Saya memasukkan surat resign ke atasan saya, dengan alasan resign yang saya tuliskan besar-besar adalah “ILMU SAYA TIDAK DIJUAL DENGAN HARGA 2 JUTA/BULAN” hehehe. Setelah urusan dengan ibu kota selesai dan rampung, demikian juga dengan istri telah resmi resign dari tempat kerja, saya memutuskan untuk membuka usaha percetakan di kampung istri yang berjarak sekitar 130 KM dari kota makassar dengan jalan yang berliku dan berbelok-belok seperti ular naga. 

          “Saat ini BOSku adalah IMPIANku tidak boleh malas-malasan” adalah kata yang muncul dalam hatiku saat hari pertama bangun pagi setelah tidak lagi ke kantor. Ada perasaan plong saat tidak lagi terkungkung dengan belenggu laporan-laporan harian di kantor yang harus diselesaikan tepat waktu sama sekali tidak boleh telat. Telat dikit saja maka kata-kata mutiara akan keluar dari mulut bos Mrs.W “kamu punya tanggung jawab gak sich denganperusahaan ini, memang kamu digaji untuk santai-santai, kantor ini tempat kamu cari makan jadi perbaiki pekerjaanmu klo mau dipertahankan, wuijkjfsdjfjsdjjkljddfjkkklfdijf, kjkjfyyea///?????/jkjkjkjjd,??????????????????????????” teringat muka killer sang bos. Sekarang benar-benar plonG, “OKEY SAAT INI IMPIANKU ADALAH BOSSSSSKU” kataku dengan tangan mengepal membentuk tinju yang keras. 

            Segala keperluan untuk membuka usaha di kampung sudah dicatat, diantaranya ; printer yang bisa scan copy, computer, lemari etalase untuk pajangan ATK serta bahan-bahan pelengkap lainnya. Tepatnya tanggal 12 September 2014 saya meninggalkan kota makassar setelah 7 tahun merasakan suka duka ibu kota. Ada rasa haru juga, saat berjabat tangan dengan teman-teman kost saat perpisahan. Hampir lupa saya tuliskan bahwa selama 7 tahun tinggal di Makassar saya tinggal di ruang ukuran 3x4 “seperti ukuran pas foto tapi beda satuannya satu Cm satunya lagi M” benar kost-kostan namanya. Saat melewati perbatasan kota yang bertuliskan selamat datang kota Makassar saya menepikan sepeda motor saya dan tengok kebelakang dan berkata “ Makassar tunggu saya untuk gebrakan bisnis-bisnis saya selanjutnya “, muncul dalam pikiran rumah makan, laundry, warung kopi, percetakan baliho dan spanduk. Saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju kampung. Sudah terbayang suasana sejuk, tenang, damai, yang bisa mengobati segala segala penat selama tuhuj tahun di ibu kota. Tunggu tulisan selanjutnya hari pertama di kampung